Sabtu, 18 April 2020

JGTI – Latihan Teater Dari Rumah, Lagi

Malam ini sesi ke 4 latihan teater bersama Jaringan Guru Teater Indonesia dari rumah melalui WA group. Selain sebagai ajang silaturahmi, latihan ini menjadi semacam agenda belajar bersama perihal dasar-dasar teater. Untuk sesi pertama, sebagai pemanasan, adalah berlatih recalling atau mengingat, mengimajinasikan dan berpikir dengan cepat berdasarkan sebuah pertanyaan. Jadi apapun yang ditanyakan harus dijawab bebas sebebas-bebasnya, tanpa memperdulikan benar dan salah. Siapa saja boleh menjawab dan semakin cepat semakin baik.

Latihan berpikir cepat diperlukan di dalam teater terutama untuk pemeran. Jika seorang pemeran berpikir lambat (banyak berpikir) dalam bertindak (acting), maka hasilnya akan terlihat dibuat-buat. Berpikir cepat adalah seperti tak berpikir atau bertindak (bereaksi) secara refleks. Persis seperti ketika seseorang digigit nyamuk, maka ia langsung akan menepuk nyamuk tersebut tanpa banyak berpikir jenis dan asal nyamuk itu. Sesi latihan ini berjalan baik dan menyenangkan.

Materi berikutnya adalah membuat kalimat bebas dengan struktur kalimat SPOK.  Subjek, objek, dan keterangan dalam kalimat harus diawali dari huruf yang diberikan, kecuali predikat (kata kerja). Misalnya diberikan huruh BDG, maka kalimat yang disusun terdiri dari B sebagai huruf awal subjek, kata kerjanya bebas, D sebagai huruf awal objek, dan G sebagai huruf awal keterangan. Jadi kalimat itu bisa disusun seperti ini, "Bahasaku menerjang Desah dalam Gempita makna". Peserta, siapa saja boleh menyusun kalimat, tidak perlu berurutan. Berikut jalannya latihan sesi kedua.

A F J
Aku Fantasikan Jiwamu,
Angin menerpa di Fajar Jiwanya,
Aku selalu Fanatik karena Janjimu,
Andaikan Farmasi bisa menolong Jiwaku,
Hahahha…. (masih banyak yang belum sesuai peraturan)

G K L
Gayamu membuat Ketakutanku Luluh, (ini benar)
Gerakku menjadikan inspirasi Kenakalanku Lah,
Getaran dalam Kalbuku Luluh lantah,
Guru sosok yg dìtiru, Kerjanya keras, Lelah tak pernah dipedulikan,
Gubahanku tak selamanya Kepakai untuk masa Lalu,
hahahaha…. (masih banyak yang belum sesuai peraturan)

Dalam dua kali percobaan banyak yang masih belum memahami peraturan permainannya. Baru dalam putaran ketiga sudah banyak yang sesuai dengan peraturan permainan ini. Berikut dipilhkan susunan kalimat dari peserta yang benar menurut peraturannya.

KPT
Keakuanku menimpali Prasangka Tentangmu,
Kalian menjadi  Pecandu yang Tertindas,
Kepicikanmu melebihi Pembicaraan Tentangmu,
Kamu menulis Puisi Tadi pagi,
Kang Noro mendengarkan Pembicaraan dan prasangka Tetangganya,

SWP
Surga membuat Wanita menjadi Pusat keabadian,
Sang fajar memeluk Wanita Pujaannya,
Saya… ingin Wanita Penyayang....

MOC
Merpati memeluk Orang yang Cantik jelita,
Matamu memiliki Oase yang Cantik mempesona,

JQL
Jelangkung membawa Qisnita pergi jauh ke Langit tujuh,
Jiwamu pancaran Qolbu dalam Lembayung,

RYH,
Ruhmu memasuki Yoga yang Hidup mendua

Nah, begitulah jalannya latihan teater dari rumah bersama Jaringan Guru Teater Indonesia. Kali ini ada sedikit hambatan dengan sinyal yang turun-naik namun latihan tetap berjalan dan semoga semuanya gembira. Lain waktu semoga bisa berjalan paralel dengan latihan dari Theatre by Request. Klirrr !!
(**)

Jumat, 17 April 2020

SPOK, Jawab Bebas, Puisi Huruf Terakhir - TbR From Home


Malam ini TbR kembali menggelar latihan dari rumah melalui WA grup. Untuk materi pertama kali ini adalah nomor permainan menyusun kalimat dengan struktur “Subjek – Predikat – Objek - Keterangan atau yang dikenal dengan SPOK. Aturan permainannya, setiap orang harus menyusun kalimat SPOK berdasarkan huruf yang ditentukan oleh peserta lain kecuali kata untuk “predikat” atau kata kerjanya. Jadi khusus “predikat” kata yang digunakan boleh bebas. Misalnya seorang peserta menentukan huruf A, B, C kepada temannya, maka kalimat yang harus disusun memiliki struktur; A sebagai awalan kata untuk subjek, predikatnya bebas, B awalan kata untuk objek, dan C awalan kata untuk keterangan. Kalimat tersebut misalnya disusun sebagai berikut, “Andi memburu Babi dengan Clurit”. Penyusunan kalimat ini harus dilakukan dalam waktu relatif cepat (segera). Setelah berhasil menyusun kalimat, ia kemudian menentukan 3 huruf untuk teman lain yang ditunjuknya, begitu seterusnya.

Seperti pertemuan sebelumnya, dalam latihan ini diperlukan presensi agar semua peserta mengetahui siapa saja yang ikut bergabung. Presensi ini dilakukan sebelum latihan dan anggota grup WA yang tidak ikut presensi tidak diperkenankan mengikuti karena akan menimbulkan kekacauan, terutama mengenai pemahaman aturannya. Latihan ini berfungsi untuk meningkatkan spontanitas dalam membuat kalimat, kecepatan berpikir, konsentrasi (daya ingat) yang difokuskan pada perbendaharaan kata, dan literasi. Berikut ini catatan perjalanan latihan “SPOK”.

Untuk memulai, pendamping latihan menentukan 3 huruf yang harus disusun menjadi kalimat SPOK kepada salah satu peserta. Huruf tersebut F, G, J ditujukan kepada Dinu.

Dinu: Fatimah melihat Gajah berwarna Jingga. LQT untuk Djury
Djury: Luhut membaca Quran dengan Tegas. RFK untuk Kris
Kris: Riyan menerima Fitrah dengan Iklhas. MNO untuk Aji
Aji: Mateo memasang Nisan dengan Obeng. ACS untuk Galang
Galang: Anton menanti Cinta di Semarang. GJL untuk Sinta
Sinta: Gita makan Jambu di Lapangan. FHI untuk Bagus
Bagus: Farah memberikan Hibah kepada Ibu mertuanya. HTP untuk Daniel
Daniel: Halim membeli Topi berhampiran Padang. GYT untuk Candra
Candra: Gina mengambil Yoyo dari Tempatnya. CLX untuk Awis
Awis: Citra menunjuk Leni untuk melakukan X-ray. ASI untuk Beni
Beni: Andi membayar Susu di warung Indah. HTI untuk Bentar
Bentar: Harjo membeli Tempe bersama Iyas. BJI untuk Reya
Reya: Berto menyusuri Jalan di timur Indonesia.

Latihan sesi berikutnya adalah menjawab secara cepat pertanyaan yang diberikan dengan tidak memperdulikan benar atau salah jawaban tersebut. Penjawab harus berusaha menjawab dan mengirimkannya secepat mungkin. Siapa saja yang bergabung boleh menjawab. Latihan ini bertujuan untuk mengasah kecepatan aksi-reaksi dan pikiran. Dengan menafikan benar dan salah, maka pikiran akan me-recall apapun terkait dengan pertanyaan, itu intinya. Sesi kedua ini cukup seru karena peserta menjawab sekenanya dan semua bergembira.

Sesi terakhir latihan kali ini ditutup dengan puisi berantai dengan melanjutkan kalimat puisi sebelumnya. Peserta melanjutkan melalui kalimat yang disusun, diawali dari huruf terakhir bait puisi tersebut. Berikut hasilnya.

Malam tak lagi gelap sementara siang adalah perjalanan,
Nun jauh di sana adalah ujungnya,
Aku terdiam menapaki jalan kerinduan,
Namun semua kerinduan itu sirna di telan badai

Indah memang, tapi semua itu tertelan angan
Niscaya lamunan yang kau arungi kini menghanyutkan kelam
Masa liku mengembara dalam lamun jenaka
Aku terdiam terbayang pesonamu. (**)



Selasa, 14 April 2020

Puisi Abjad – TbR & JGTI From Home


TbR kembali menggelar latihan dari rumah melalui WA. Kali ini latihan berjalan pararel dengan Jaringan Guru Teater Indonesia (JGTI). Setelah sebelumnya TbR berlatih materi “Cerita Terusan” dan JGTI dengan “Cerita Lanjutan Berdasar Pemaparan", malam ini nomer permainan yang akan dilatihkan adalah "Puisi Abjad". Aturannya sederhana, setiap orang membuat satu kalimat puitis dimulai dari huruf “A” dan berikutnya meneruskan kalimat tersebut namun dimulai dari huruf “B”, demikian seterusnya hingga seluruh urutan Abjad terpenuhi. Selain melatih imajinasi, "Puisi Abjad" ini melatih daya pikir, konsentrasi, dan literasi. Sebelum latihan dimulai, peserta diminta untuk presensi. Hal ini digunakan untuk membentuk semacam lingkaran imajinatif – karena latihan sesungguhnya dilakukan dengan duduk melingkar. Aturan berikutnya, kalimat puitis akan dibuat secara berurutan sehingga tidak terjadi crash dalam pengirimannya di WA grup. Berikut catatan hasil penyusunan Puisi Abjad pada latihan kali ini oleh JGTI dan TbR.

Jaringan Guru Teater Indonesia

Antara lindup cahaya temaram  di sepi malam, 
Akupun mulai merindu rasa ini

Belum maksudnya aku masih menyihir cinta tersebut,
Bangunan rapuh, langit tua, pohon suram seperti menyekapku diam tanpa kutik,
Bagai mimpi tak terarah meski ku menutup mata tak ada harap,
Bintang gemerlap tanda tak tampak, walau cahaya menyembul..

Cahaya gelap menutup diri hilang dimakan amarah,
Dalam sekali kudengar rindu ini di dada,
Engkau mengintip di sela-sela deburan pikiran yang berkecamuk,
Fantasi anganku menggerutu syahdu,

Gaduh mengetuk ruang ruang imaji,
Hilangkan sunyi bersama bisikan malam, hening... mungkinkah esok akan datang bersama indahnya cakrawala,
Intip angan dalam bayang bayang ilusi, ingin ku rengkuh sunyi ini tanpa dirimu,

Janjimu terurai di tiup angin sepoi,
Kaukah itu kekasihku....
Lama nian ku merindukan tawamu,
Meski larut malam tak bersahabat,
Namun ku sabar menanti meski  terasa pedih, nantikan bayang di ruas-ruas jiwa,

Ode melagu di bisu suara,
Pada malam syahdu rintik hujan,
Patah kalimat terbata-bata..
Qadha ini mesti diarungi,

Rasa harus selalu ada walau pahit tuk ditelan,
Sabda itu terdengar nyaring namun penuh makna,
Serasa beban kian menghimpit tuk muntahkan amarah, Allahu Akbar!

Titipan itu pasti akan diambil, tanpa sisa,
Urungkan niat hitam kawan, nanti kau akan menyesal
Volume amarah tak harus tumpah-ruah,

Waktulah yang akan berbicara,
Wahai Sang Maha Kuasa... hancurkan amarah yang membelenggu hidupku!

X adalah abjad hampir menuju akhir, bak perjalanan waktuku ke pada-Mu
Zaman dan fana.


(Sri Mulyani, Budi Suryanto, Sony Cimot, Eman Hermansyah, Ray Mengku, Marni, Nocky Kosasih, Dede Syarif, Ahmad Zilalin)
Theatre by Request

Amarah merambat pelan bersama mendung kenyataan.
Bicara hati membuat terasa bagi bersama,
Cinta tenggelam meraup mimpi,
Dendam mana yang lebih pilu dari rindu,

Embun pagi perlahan sirna oleh cahaya mentari,
Fantasi baru hadir bersama lamunanku,
Genggaman yang menerkam tikamanmu,
Hati makin tak menentu, teringat masa yang telah berlalu,

Ingin kusentuh tubuh indahmu,
Jika tak berdaya akankah semua membisu,
Kuketuk kenangan yang kau kemasi kala kemarau.
Lambat dan lirih masih terdengar mengalun dalam kalbu,

Meratap aku dalam kalut yang menggebu
Namun aku hanyalah aku dan tetap aku,

Oh angin, kemana lagi Kau akan menuntunku melangkah,
Pahit memang, tapi akan kuterima itu,
Qunut cinta buatmu yang selalu di hatiku,
Rindu tetaplah rindu, yang aku pinta hanya temu, bukan puisimu,

Seperti masa masa remaja kita dahulu,
Tak banyak babibu, berlaku, lalu kau terpesona,
Untaian-untaian hatipun meronta tak berdaya,
Visi ke depanku mulai semu, tak mampu menembus waktu,

Waktuuu..!!! dia telah membunuhku,
Xoxo… menjadi bukti cinta kita yang kau lupa,

Ya... Tuhan jika malam ini menjadi malam terakhirku, kualunkan sholawat cinta untuk-Mu,
Zakatkan kuasa-Mu padaku, selain Engkau, ada dia yang ku rindu.


(Danial, Andri, Dinu, Agung, Galang, Benny, Djury, Kelik Kenthir)

Perbedaan cara penyusunan “Puisi Abjad” di atas adalah, JGTI melakukannya dengan peserta acak sehingga sering terjadi crash dan double kalimat dengan awalan huruf yang sama serta lupa membuat kalimat dengan awalan huruf Y. Sementara TbR berusaha tetap melanjutkan kalimat sesuai urutan pada saat presensi awal melalui WA dilakukan. Meski begitu, keduanya menampilkan semangat dan spontanitas yang hebat. Sip!!, Klirr!! dan sampai bertemu dalam latihan berikutnya. (**)

Senin, 13 April 2020

Suto Tidak Jadi makan Ular - TbR from Home


Lama TbR tidak latihan karena wabah Covid-19. Sedianya pada tanggal 19 April TbR akan pentas di Gresik namun terpaksa dibatalkan. Hari ini, dalam rangka menjaga semangat bersama, TbR melaklukan latihan theatre games (Tbr From Home)  melalui WA Grup dengan nomor latihan cerita terusan di mana satu orang menyumbang satu kalimat. Berikut hasil cerita tersebut.

Suto Tidak Jadi makan Ular

Suto makan ular di pagi hari. Hal itu ia lakukan karena semalam mendapat petunjuk dalam mimpi bahwa ular bisa mengusir bencana yang ada. Sekitar jam 3 pagi, Suto mencari ular di sawah. Pergilah Suto ke sawah dengan membawa senter dan sebilah ranting pohon nangka karena dalam mimpinya ular itu akan tertangkap dengan ranting pohon nangka itu. Dalam perjalanan menuju sawah, Suto mendengar suara-suara aneh tetapi dia tak menghiraukannya.

Sebab, bisikan dalam mimpinya jauh lebih menggetarkan tekadnya sehingga tidak ada perasaan takut, grogi, ataupun ragu-ragu dalam hatinya. Ia terus saja melangkah. Suto terus mencari ular di kawasan sawah dan mencari hingga ke kawasan hutan dan langsung masuk ke kawasan hutan. Sebelum masuk ke dalam hutan, di situ ada banyak ranting-ranting pohon yang terbiar.

Setelah menebas beberapa ranting, Suto melanjutkan perjalanannya mencari ular. Saat berjalan sejauh kurang lebih 3 meter, Suto menyorotkan senternya, tiba tiba ada sesuatu bergerak di balik pohon dan ternyata ia melihat seorang puteri yang sangat cantik, menggunakan kebaya berwarna kuning, dan  di kepalanya melingkar mahkota yang indah. Suto pun takjub melihatnya. Namun tiba-tiba suara aneh tadi terdengar lagi, “sreeeekkk… sreeeekkk…”

Tetapi Suto membiarkan suara tersebut dan dia menghampiri putri cantik itu, ketika Suto akan menghampiri putri tersebut, putri itu malah semakin manjauh. Lantas Suto menyanyikan lagu Peterpan "Terus Melangkah Melupakanmu" sambil berjalan mundur menyaksikan putri semakin menjauh, tiba-tiba Suto terperosok jatuh ke dalam jurang ketika ia tak sengaja menginjak benda lunak di tanah yang lalu menggelincirkannya.

Ia terjerembab. Kepalanya terbentur sebuah batu yang lumayan besar namun ia bisa bertahan. Tak lama ia mengkondisikan tubuhnya, Suto mengamati batu yang membentur kepalanya. Dan ternyata batu itu adalah kumpulan batu yang berwarna-warni. Tiap batu yang ada di situ memiliki warna dan motif yang berbeda satu sama lainnya. Untuk beberapa waktu Suto merasa takjub dengan keadaan di sekitarnya. Namun, tidak berapa lama dia menemukan beberapa keanehan dari tumpukan batu tersebut, salah satu keanehannya yaitu Raja Ular yang mengutus anak buahnya ke dalam mimpi Suto.

Rajapun mengatakan bahwa, "Suto tolong jaga bumi ini, sebentar lagi bumi kita akan kedatangan wabah atau pageblug yang menggegerkan semuanya". Suto pun menjawab dengan ketakutan, "Taaaaa... tapiiii Raja, apakah penghuni bumi akan hancur?". Seketika Raja Ular pun menghilang dan meninggalkan tulisan berupa angka 19 pada salah satu batu itu. Suto pun mikir keras tentang makna angka 19 tersebut, hingga akhirnya ia sadar bahwa angka 19 itu menandakan jumlah batu tersebut.

Saat Suto hendak pergi meninggalkan batu dan tempat itu, ia melihat logo kecil di samping angka 19, Suto mengamati dengan teliti, logo itu berbentuk huruf D dan A yang semuanya terlilit gambar ular kecil, terdengar bisikan dalam hati Suto, “Sutoooooo.. ambilah semua batu itu dan jagalah bumi ini serta kembalilah pada pangkuan ibumu, maka kebaikan akan melingkupimu". Kemudian Suto bergegas kembali ke rumah dan berfikir ulang tentang angan-angan untuk kembali ke rumah ibunya. (**)

Suto tidak jadi makan ular akhirnya. Sampai bertemu dalam latihan berikutnya. Sip!!

Selasa, 10 Maret 2020

Coba Nomor Lama

Latihan TbR hari ini difokuskan pada percobaan nomor-nomor lama. Selepas pemanasan dengan theatre game dilakukan, percobaan nomor diawali dengan maraton monolog. Tujuan dari cobaan ini adalah pemain berani mengambil risiko untuk melanjutkan cerita temannya. Tidak mudah sekaligus tidak terlalu sulit, namun hambatan yang seringkali terjadi adalah pemain tidak ikhlas mendengarkan temannya bercerita dalam model monolog. Ia terjebak untuk membangun ceritanya sendiri di kepala. Ketika tiba gilirannya, cerita di kepala ini bisa buyar karena ujung cerita teman yang mesti ia respon belum tentu sesuai dengan cerita yang ada di kepalanya. Karena kurang khusuk mendengarkan cerita teman ini, juga mengakibatkan alur cerita berhenti karena gangguan yang ada di kepala pemain yang telah membangun cerita sebelumnya. Bahkan, karena fokus membangun cerita sendiri ini, logika cerita teman terabaikan sehingga ketika cerita mesti berlanjut nalarnya tidak ketemu. Latihan maraton monolog ini sangat bagus untuk membangun imajinasi bersama dengan respon dengar-wicara di mana pemain mendengar cerita teman dan melanjutkannya dalam wicara. Ketika wicara dilakukan pada saat yang sama pemain tersebut mesti mendengar apa yang ia wircarakan sehingga pikiran tidak kosong. Sekali pikiran kosong, maka jeda akan terjadi. Sayangnya jeda ini bukan jeda teknik pemeranan melainkan jeda karena blank. Nomor berikut yang dicobakan selepas maraton monolog adalah puisi Jibberish. Kendala utama dari bahasa Jibberish adalah terabaikannya konsep pembentuk bahasa sehingga diwicarakan secara tak konsisten. Kendala lain berpuisi dengan Jibberish adalah fokus pikiran ada pada bahasa sehingga melupakan ekspresi. Akibatnya susunan bait-bait puisi yang dihasilkan seringkali menyerupai susunan kalimat cerita. Meski banyak pembenahan, latihan nomor-nomor TbR ini menarik dan akan terus dilangsungkan sambil menyusun nomor-nomor baru. Hadir dalam latihan; Andri, Beny, Aji, Nimas, Shinta, dan Gusti. (**)

Rabu, 19 Februari 2020

Kembali Membangun Cerita

Sesi latihan TbR pada Rabu 19 Februari 2020 kembali menekankan pemahaman tentang membangun cerita atau building story. Pada sesi sebelumnya, teman-teman masih terjebak untuk memainkan adegan sehingga peristiwa berjalan seolah sudah diatur. Akibatnya, kalimat yang muncul adalah kalimat dialog yang cenderung bersifat tanya-jawab atau sebab-akibat. Pola semacam ini agak sulit digunakan untuk membangun cerita. Oleh karena itu latihan coba diubah polanya dengan kembali menerapkan "yes and yes" dalam bercerita secara kelompok. Dalam pola ini masing-masing pemain tidak diperkenankan menolak atau mengatakan tidak terhadap apa yang disampaikan temannya. Melalui pola ini, pemain dapat lumayan lancar bercerita dan tak lagi cepat terjebak pada dialog dengan kalimat pendek. Selain itu pemain menyadari bahwa ketika bercerita kondisi "same" dapat bertahan dalam waktu cukup lama. Berbeda dengan latihan "same" pada pertemuan sebelumnya di mana pemain saling tidak betah berada dalam kondisi "same" sehingga mudah untuk beralih ke "role" bahkan "context". Pada akhir latihan pemain juga menyadari titik perbedaan antara membangun cerita dengan dialog. Sebenarnya membangun cerita dengan dialog bisa dilakukan namun memerlukan pembiasan mengubah adegan ke dalam sesi bercerita. Sebab kalau main frame nya masih adegan, maka tanpa menunggu waktu lama pemain akan melakukan dialog dan ketika ide macet yang terjadi kemudian adalah dialog dengan kalimat singkat dan tertutup sehingga menyulitkan pengembangan imajinasi. Nah ketika pemahaman mengenai building story ini didapatkan, permainan membangun cerita dengan menggunakan kode untuk setiap pemain dapat dengan lancar dilakukan. Pemain sudah tidak mudah terjebak untuk beradegan. Namun demikian kungkungan logika realisme masih cukup bertahan sehingga cerita yang dihasilkan kurang imajinatif. Hadir dalam latihan; Andri, Kris, Bentar, Kaila, Sinta, Husni, dan Agung. (**)

Selasa, 11 Februari 2020

Kembali Latihan

Theatre by Request kembali berlatih pada awal tahun. Latihan pertama dimulai pada tanggal 30 Januari 2020. Tidak banyak yang hadir namun latihan tetap berjalan intens dengan fokus pada aspek dramatik utamanya adalah building story. Proses membangun cerita secara improvisasi ini dilakukan karena dalam produksi ke depan TbR merencanakan untuk memainkan nomor-nomor dramatik selain nomor-nomor biasanya. Cobaan yang dilakukan adalah dengan melatihan same, role, dan context sebagai dasar dari pembangunan cerita bersama. Materi ini dilanjutkan dalam sesi latihan pada tangga 6 Februari 2020 dengan jumlah peserta yang cukup banyak. Selain anggota lama TbR ada dari SMKI, UIN, dan UNY yang ikut bergabung. Dalam sesi ini, building story coba dikembangkan secara kelompok di mana masing-masing orang merespon cerita temannya melalui kode tertentu. Namun demikian, materi latihan ini kurang bisa dikembangkan atau sedikit bergeser dari tujuan karena bukan cerita yang disampaikan melainkan lakuan adegan. Pada latihan berikutnya tanggal 11 Februari 2020 yang dihadiri oleh teman-teman UIN, SMKI, dan Kalanari materi same, role, context kembali dilatihkan untuk menegaskan maksud membangun cerita bersama. Lagi-lagi presentasi adegan mengambil peran cukup banyak sehingga cerita tidak bisa terbangun dengan apik. Tradisi latihan teater dramatik di mana pemain melakonkan adegan masih melekat erat. Sementara proses membangun cerita sebenarnya tidak memerlukan adegan dalam konteks drama. Pemahaman mengenai bagaimana cerita dibangun tidak harus melalui adegan dramatik kurang bisa terserap oleh semua peserta latihan. Kemungkinan besar diperlukan materi latihan "Yes and.." pada pertemuan berikutnya sebelum menuju building story. (**)