Sabtu, 15 September 2018

Theatre Game Untuk Anak-anak

TbR memberikan materi theatre game untuk anak-anak di PT Regina Realty Jakarta pada tanggal 15 September 2018. Program belajar bersama, bermanfaat dan penuh keceriaan ini diperuntukkan sebagai salah satu wujud kegiatan ekstra di luar sekolah. Memberikan pelajaran moral atau nilai kehidupan tertentu seraya bermain menjadi pilihan TbR. Peserta terdiri dari kurang lebih 25 anak usia SD-SMP.  Untuk memudahkan pengaturan, peserta dibagi ke dalam 2 kelompok; di bawah di atas kelas 6 SD. Materi permainan utamanya menyangkut pembangunan kerjasama dan rasa saling menghargai. Tidak selalu mudah bekerja dengan anak-anak. Hal ini dirasakan oleh 2 orang instruktur yang mengelola kelas; Andri dan Bagus. Persoalan pertama yang dihadapi adalah penyamaan titik awal aktivitas yang dalam kegiatan untuk orang dewasa cukup dengan pemasan fisik. Pada titik ini, pemanasan fisik tidak bisa berlangsung maksimal jika tidak ditambahi cerita-cerita yang menyenangkan di saat fisik digerakkan. Kedua, materi permainan konsentrasi kurang bisa dengan mudah diserap oleh karena itu perlu durasi permainan energi individu dan kelompok yang cukup.

Ketiga adalah problem pubertas yang sudah mulai muncul sehingga diperlukan permainan pengantar untuk mengurasi rasa malu dan membangkitkan kepercayaan diri. Keempat adalah peranti pembantu berupa alat peraga yang dapat digunakan dalam permainan untuk memudahkan ketersampaian materi. Kelima adalah perlunya kesabaran ekstra dan pelumeran target dalam setiap jenis permainan yang disampaikan. Andri dan Bagus cukup balik mengelola kelas, namun masih harus mempelajari kembali struktur permainan yang tepat diberikan bagi peserta anak-anak serta dinamika antara permainan satu dengan yang lain. Pemisahan 2 kelompok dalam satu sisi memudahkan pengelolan namun di sisi lain membuat masing-masing peserta saling ingin mengetahui apa yang sedang dikerjakan oleh kelompok lain. Soal ini bisa diatasi dengan menyatukan 2 kelompok tersebut di akhir sesi.  Intinya, struktur program theatre game untuk anak-anak perlu disusun secara lebih spesifik dan ini menjadi pekerjaan rumah teman-teman TbR. Agenda pembelajaran bagi anak-anak yang diselenggarakan oleh PT Regina Realty ini sangat menarik untuk dikembangkan dan bagi TbR merupakan satu tantangan sehingga setiap instruktur yang terlibat tidak hanya mengajar namun sekalian juga belajar. Sip!!

Kamis, 26 Juli 2018

Kartu Teknik dan Kartu Emosi

Latihan TbR pada hari Rabu 25 Juli 2018 menggunakan model kartu seperti latihan sebelumnya. Di dalam proses ini, peserta diberi tugas untuk melakonkan secara improvisasi teknik pemeranan dan emosi. Dalam latihan ini teknik pemeranan dasar seperti aside, soliloki, ping pong, perubahan status, dan kontras dilakonkan dengan emosi marah, senang, sedih, dan takut. Menjadi catatan penting di dalam latihan ini adalah ketepatan penerapan teknik terkait tema yang diangkat serta ciri fisik emosi karakter yang diperankan. Ada beberapa adegan menarik dan pas untuk dilakonkan dengan kombinasi teknik dan emsosi namun tidak sedikit pula yang kedodoran. Misalnya di dalam teknik kontras para pemeran kurang menyepakati penanda perubahan situasi sehingga adegan tidak dapat berlangsung secara kontradiktif. Di dalam latihan ini pemeran sering melupakan prinsip utama dalam improvisasi yaitu ikhlas dalam ber-reaksi. Pemeran masih sering berpikir untuk melakukan aksi sehingga justru sering blank di tengah adegan. Atas beberapa catatan selama latihan, pada pertemuan berikut bangunan dasar cerita, karakter, dan emosi harus dituangkan dengan sedikit lebih jelas sehingga pemeran dapat membangun cerita, karkater, dan emosi terlebih dahulu sebelum memeragakannya. Hadir dalam latihan Awis, Nimas, Andre, Bagus, Galang, Yayak, dan Be (**)

Selasa, 10 Juli 2018

Tancep dan Kartu Adegan

Senin, 9/06/18 TbR kembali berlatih lanjutan karakter. Khusus pada sesi ini peserta memahami tentang gravitasi bumi dalam kaitannya dengan pose, gestur, dan gestikulasi karakter ketika bejalan, diam, dan berbicara. Tidak mudah menerapkan hukum gravitasi dalam laku karakter. Di dalam wayang atau tari Jawa konsep ini diadopsi dalam "tancep" di mana penari mengambil posisi dan pose sesuai karakternya dengan mantap. TbR melatihkan ini dalam usahanya untuk melakonkan karakter di luar dari karakter pemain itu sendiri. Secara fisik latihan ini dapat dilakukan dengan kuda-kuda, pernafasan dan stomping seperti apa yang dilatihkan oleh Whani Darmawan. Namun secara psikologis, "tancep" berkait erat dengan keyakinan pemeran akan dirinya dan peran yang dibawakannya. Hal dasar ini mesti harus dilatihkan berulang sehingga dapat dipahami dan diterapkan dengan baik oleh para pemain TbR. Untuk menegaskan keyakinan itu, latihan dilanjut dengan "kartu adegan" di mana pemain diberi garis besar sebuah adegan untuk diperagakan secara improvisasi. Dalam beberapa karakter, pemain terasa enak membawakan terutama jika peran tersebut tidak terlalu jauh dari lingkungan keseharian pemain. Namun ketika peran tersebut memiliki latar sosial dan budaya berbeda, hantu keyakinan muncul dan merontokkan kemantapan pemain dalam berperan. Hantu ini mengusik pikiran dan kondisi fisik sehingga mengganggu penampilan. Peran yang semestinya dilakoni tanpa dipikir menjadi penuh beban pemikiran. Peran yang semestinya menyatu secara otomatis antara pikiran, perasaan dan perbuatan menjadi terpisah dan berada di ambang keraguan. Memang perlu usaha dan terus menerus berlatih. Hadir dalam latihan Andre, Awis, Nimas, Gilbo, Efa, Yayak, Garit, Benny, Bagus, dan pencatat latihan Dinu. (**)

Senin, 02 Juli 2018

Kartu Karakter

Latihan TbR pada hari Senin, 02/07/18 brfokus pada karakter dan emosi. Pada sesi latihan ini, kemampuan improvisasi pemeran dalam melakonkan karakter diuji. Tanpa diberi alur cerita atau tema, pemeran memilih sendiri karakter yang diberikan (ditulis dalam bentuk kartu) dan langsung memainkannya. Tentu saja banyak kekurangsesuaian terjadi terutama menyangkut pembangunan cerita secara bersama. Pemeran cenderung mempertahankan karakternya baik secara fisik maupun melalui kalimat dialog sehingga melupakan aturan dasar improvisasi yaitu, "ikhlas". Ketidakikhlasan ini menyeret laku adegan menjadi kabur. Pemeran tidak menemukan tema atau konflik bersama sehingga kelanjutan atau penyelesaian adegan sulit untuk ditentukan. Selain itu, pemeran sering mempertahankan ciri fisik mengingat bahwa karakter yang ia perankan tidak boleh disebutkan. Ketika ciri fisik yang semestinya hanya sebagai penanda awal karakter terbawa terus sepanjang adegan dan membuat pemeran tak lagi bebas dalam bermain. Konsepsi aksi-reaksi di mana penekannya ada pada reaksi pun menjadi buyar karena masing-masing mempertahankan karakter sehingga yang ada di dalam pikiran untuk diekspresikan adalah, "aksi". Hal yang sama terjadi ketika adegan diganti dengan "emosi". Semua terpaku pada emosi yang mesti dibawakan sehingga "karakter" tidak dimunculkan. Jadi siapa yang berekspresi emosional itu tak memiliki alamat jelas. Materi latihan ini menarik untuk diulang dan dikembangkan lagi demi menuju kemuliaan, "ikhlas". Hadir dalam latihan; Andre, Agung, Yayak, Garit, Awis, Efa, Bagus, Benny, Gilbo dan pengamat latihan Dinu. (Sip)   

Rabu, 27 Juni 2018

Latihan Lagi



Setelah sebelumnya melaksanakan Syawalan (pertemuan pertama di bulan Syawal) pada Hari Kamis 21 Juni 2018 di Dalem Tikusan Kotagede, TbR kembali menyelenggarakan latihan. Program latihan kembali dirancang sebagai kegiatan rutin mingguan dengan hari tentatif. Latihan pertama selepas lebaran (27/06) berfokus pada story telling. Porsi latihan ini memberikan kemungkinan improvisasi melalui cerita yang sebelumnya didengarkan untuk kemudian diceritakan ulang. Selepas presentasi masing-masing cerita dikupas mengenai persepsi pemain dan penonton dalam menikmati sebuah sajian. Persepsi ini menjadi penting karena imajinasi serta tanggapan penonton atas sajian berbeda dengan imajinasi pemain dan realisasi penyajian. Poin pentingnya ada pada motivasi bercerita di mana ketika tidak ada panduan, himbauan, atau kerangka (batasan mengenai) pertunjukan, cerita dapat dialirkan apa adanya dan penerimaan penonton pun juga seolah tanpa halangan. Cerita hadir secara lugu tanpa beban ekspresi, emosi ataupun elemen seni peran lain. Kondisi ini akan berubah ketika pencerita maupun penonton diajak berada dalam satu kerangkan sebuah pertunjukan. Pencerita tiba-tiba memiliki beban untuk berperan dan penonton memiliki tuntutan ideal sebuah pertunjukan (pemeranan). Pada saat ini, halangan muncul sehingga cerita tak lagi lancar meluncur. Satu hal yang menjadi hambatan bagi pemeran dan harus diatasi (dihilangkan) dalam skala profesional namun di sisi lain hambatan ini menjadi sisi menarik yang justru menghidupkan presentasi para non-aktor. Hal yang salah atau kurang tepat dan disikapi serta-merta dengan aksi tertentu demi mempertahankan sebuah cerita adalah kegembiraan baik bagi pencerita maupun penonton. Kegembiraan yang di dalamnya memuat satu pelajaran bahwa berada dalam frekuensi yang sama antara pemain dan penonton dapat meleburkan batas dan melenyapkan skala baik-buruk terhadap pertunjukan. Latihan ini dihadiri Galang, Yayak, Agung, Awis, Gilbo, Benny, Andri, Dinu, dan Bagus. Selepas latihan diadakan diskusi ringan untuk merencanakan pementasan TbR dan kemungkinan pengembangan nomor-nomor pertunjukannya. (**)



Rabu, 07 Maret 2018

Membongkar Latihan Adegan

Studio Teater kembali melatihkan adegan-adegan atau jenis permainan yang sudah jarang lagi dimainkan. Adegan-adegan ini biasanya dilatihkan untuk pembentukan dasar pemahaman mengenai akting dan yang melingkupinya. Selama ini, terutama semenjak nomor-nomor TbR sudah ditentutkan, latihan langsung mengarah kepada nomor dan atau pemanasan dalam rangka menjelaskan tata aturan permainan nomor yang akan dimainkan. Namun ternyata tidak semua peserta pelatihan memahami dengan baik dasar-dasar permainan, utamanya soal diri, komunikasi, dan kenaturalan permainan. Atas dasar kenyataan ini, semenjak tanggal 7 Maret 2018, latihan adegan kembali diselenggarakan. Untuk itu perlu kembali membongkar data model-model latihan adegan dasar. Hadir dalam latihan ini; Andri, Gilbo, Bagus, Bagus Adi, Awis, dan Nimas. Selama percobaan dalam latihan adegan, beberapa hal terkait komunikasi antarpemain, kepercayaan terhadap tubuh sebagai perangkat dasar ekspresi dan ketergantungan pada pikiran masih mengambil peran masih menjadi persoalan sehingga permainan menjadi kurang lumer dan segar. Jadi, bagi yang ingin kembali berlatih secara mendasar dan esensial silakan datang setiap hari Rabu jam 16.00 di Studio Teater. Sip!!

Rabu, 07 Februari 2018

TbR dan Riset

Theater by Request pada hari ini, Rabu 7/02/18 dipresentasikan untuk kepentingan riset. Dengan tajuk "Mengamati Permainan dan Memainkan Pengamatan", TbR digelar mulai jam 16.10 sampai dengan 17.25 di Studio Teater. Sebanyak 12 nomor plus 1 nomor pembukaan ditawarkan untuk dipilih. Kesemua nomor ini mewakili 4 jenis interaksi yang ada dalam TbR yaitu; apresiasi, replay, interaksi terbuka, dan kontrol.  Seperti biasa sebelum persembahan dimulai diberikan pengantar kepada penonton tentang TbR sebagai teater terapan, edukatif, interaktif dan improvisasional. Sebagian penonton terutama yang pernah menyaksikan TbR bisa memahami konsep yang dijelaskan. Sementara sebagian lain paham namun kurang jelas mengenai alur pementasan yang mensyaratkan keterlibatan penonton dalam memilih adegan, pemain, tema dan bahkan mengontrol jalannya pertunjukan. Bahkan ketika "mesin" sebagai nomor pembuka dan sampel pola interaksi dan kontrol dimainkan penonton masih ragu-ragu untuk ambil bagian. Sementara tanpa adanya penonton yang bersedia memilih nomor-nomor pertunjukan yang disajikan, maka TbR tidak bisa dijalankan. Meski lambat panas namun selepas nomor "aktifitas" dipilih dan dimainkan dengan kontrol langsung dari salah satu penonton, keterlibatan penonton mulai menaik. Akhirnya penonton mulai dapat berasyik ria untuk terlibat secara aktif baik sebagai penentu nomor, pemilih pemain, penentu tema, pengontrol pertunjukan ataupun berinteraksi secara langsung ketika nomor pertunjukan sedang berlangsung. Batas atau jarak antara pemain dan penonton kemudian menjadi lumer. Semua seperti seolah sedang bermain bersama. Selepas pementasan diadakan diskusi dengan moderator Dinu Imansyah sebagai periset. Dalam diskusi gagasan dasar atau konsep TbR dibincangluaskan termasuk pola latihan dan beberapa hal yang menyangkut teater pendidikan yang tentu saja menjadi bahan kajian penting bagi periset selain pementasan itu sendiri. TbR kali ini dimainkan oleh Dilla, Awis, Nimas, Tatag, Bagus, Benny, Andri, Galang, Gilbo, Yobel, Gusti, dan Bondan. (**)